Munculnya online banking membuat transaksi perbankan menjadi lebih praktis, sederhana dan cepat. Sekarang semuanya serba digital, bahkan bisa dikatakan sangat sedikit orang yang datang ke bank untuk melakukan transaksi secara manual, terutama mereka yang tinggal di kota besar dengan akses internet.

Tapi, ingatkah Anda, sepuluh tahun lalu, banyak transaksi perbankan yang masih dilakukan secara manual, seperti tabungan, pembukaan rekening, transfer dalam jumlah besar. Tidak ada pilihan lain selain pergi ke cabang bank yang jauh dan sering harus mengantri.

Berkat kemajuan teknologi, metode transaksi online banking atau yang biasa dikenal dengan online banking menjadi pilihan banyak orang. Perbankan online membuat semua transaksi menjadi mudah dan efisien. Ini adalah salah satu fasilitas yang ditawarkan bank kepada nasabahnya untuk melakukan berbagai transaksi pembayaran online.

Nasabah hanya perlu menyiapkan perangkat elektronik seperti telepon pintar (smartphone), komputer, komputer notebook, komputer tablet, dan lain-lain, serta terkoneksi dengan internet untuk melakukan transaksi perbankan kapan saja, di mana saja.

Baca Juga : Call center mandiri

Namun, sebagai nasabah, kita juga harus menggunakan layanan online banking ini dengan bijak. Artinya kita harus selalu waspada dalam melindungi data pribadi kita agar transaksi perbankan online tetap aman. Sebab, fasilitas transaksi berbasis internet atau online juga rentan terhadap penipuan.

Jenis kejahatan dunia maya di dunia maya, istilahnya Cyber ​​Crime, sering terjadi di dunia perbankan. Penyebabnya banyak, tetapi terutama karena nasabah tidak sadar, lalai, meremehkan atau bahkan malas mencari informasi tentang cara aman melakukan transaksi perbankan online.

Memahami Pola Pencurian Data Pribadi dari Online Banking

Para penjahat siber atau cracker/hacker ini sering kali mencuri data pribadi yang penting seperti username, password, PIN, kode OTP atau data lainnya.

Peretas mencuri data pribadi atau informasi perbankan penting yang dikenal sebagai pola kejahatan phishing. Kejahatan phishing ini dapat dilakukan oleh satu orang atau beberapa kelompok yang tidak bertanggung jawab. Proses phishing dilakukan dengan mencuri data-data penting, antara lain:

  • Data pribadi (nama, alamat, email, nomor handphone, nama orang tua, tanggal lahir, dll)
  • Data identitas diri (KTP, SIM, KK, NPWP, dll)
  • Data perbankan atau mobile banking (nomor rekening, username, password, kode OTP (one-time password))
  • Data kartu debit (nomor kartu ATM dan PIN) dan data kartu kredit (nomor, PIN, jenis kartu, nomor di belakang kartu kredit, dll)
  • Data akun e-commerce, dompet digital dan pembayaran pasca (username, password dan kode OTP)

Ada beberapa mode, biasanya dilakukan dengan membuat situs web palsu yang terlihat seperti aslinya, mengendus, dan menggunakan keylogger yang merekam semua aktivitas yang Anda lakukan di perangkat.

Sebagai nasabah, kita harus memahami pola kejahatan perbankan dan mengetahui bagaimana melakukan transaksi dengan aman saat menggunakan online banking.

  1. Masukkan URL bank dengan benar dan pastikan ada tanda gembok

Kejahatan perbankan online seringkali bermula dari adanya website palsu yang mirip dengan website asli bank tersebut. Ada juga tombol login di situs palsu, jika Anda login, data pribadi Anda menjadi milik mereka.

Ketahuilah bahwa ada dua modus kejahatan perbankan online.

  • Mulailah dengan membuat URL bank sedekat mungkin dengan URL bank asli. Misalnya, untuk pengguna Internet Banking BCA, alamat situs Internet Banking yang benar adalah www.klikbca.com, tetapi URL situs tiruan palsu tersebut adalah www.Clickbca.com. Jadi perhatikan setiap huruf URL saat Anda mengetik, perbedaan antara K dan C bisa berakibat fatal.
  • Cara kedua, dengan mengirimkan email palsu dan link ke alamat email Anda. Tautan akan mengarah pada pembuatan situs web palsu yang identik dengan situs web bank asli.

TIPS: Akses perbankan online bank melalui alamat resmi dan pastikan Anda memeriksa dan memasukkan URL bank resmi dengan benar. Abaikan email yang diterima atas nama bank yang meminta Anda untuk mengklik atau mengirim data pribadi.

  1. Jangan bagikan kode PIN/password/OTP

Perlu diketahui bahwa dalam transaksi online banking, data seperti username, PIN, password bahkan kode OTP yang digunakan untuk akses online banking sangatlah penting. Tidak hanya itu, data lain seperti nomor rekening, nomor kartu kredit, CVV (3 angka di belakang kartu), kode OTP dan tanggal kadaluarsa kartu kredit/debit juga penting.

Jangan pernah membagikan data perbankan pribadi Anda kepada orang lain. Selain itu, jangan pernah memberikan/membagikan foto selfie dengan memegang identitas diri (KTP/NPWP) karena hal ini juga rawan penipuan.

Tip: Jangan meremehkan ini. Ingatlah untuk menjaga kerahasiaannya dan jangan memberikan PIN/password/kode OTP Anda kepada orang lain, bahkan staf bank (atau seseorang yang mengatasnamakan bank/dll) karena bank tidak pernah meminta Anda untuk membagikan data ini.

  1. Upaya Update/Ubah Password/PIN

Sangat penting untuk mengganti password/PIN internet banking Anda secara berkala, minimal setiap 6 bulan sekali.

  1. Pastikan logout dan penyelesaian transaksi

Setelah menyelesaikan transaksi, Anda harus menekan tombol logout di website. Seringkali, beberapa pelanggan cukup mengklik untuk menutup browser tanpa keluar setelah menyelesaikan transaksi. Ini mungkin tampak sepele, tetapi penting untuk dicatat bahwa kelalaian ini dapat meninggalkan rekening bank Anda di tangan orang yang tidak bertanggung jawab dan Anda bisa kehilangan uang.

  1. Berusaha menghapus riwayat internet di ponsel/laptop

Cracker dapat menggunakan cache dan cookie pada perangkat Anda untuk mengakses akun Anda. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk membersihkan cache dan cookie Anda setelah atau sebelum transaksi perbankan online untuk menjaga keamanan data dan dana Anda.