Tanpa mengerti nilai wajar suatu saham, investor pemula bakal hadapi kesulitan di dalam memutuskan kapan saat terbaik untuk membeli dan menjual saham.

Investor bakal ketinggalan saat kesempatan itu tiba kecuali investasi yang dikerjakan cuma berdasarkan terhadap fluktuasi harga pasar.

Ada beberapa cara untuk mengevaluasi nilai saham perusahaan publik, sehingga investor dapat menjauhkan kesalahan seperti menjual saham sangat cepat sehingga tidak meraih return yang lebih besar atau membeli saham saat harganya tetap ketinggian.

 

Harga pasar

Nilai atau harga pasar suatu saham selamanya naik turun saat sesi jual beli di pasar saham terjadi berdasarkan jumlah supply dan demand yang ada.

Nilai pasar bakal memberikan informasi kepada investor kapan saatnya saham selanjutnya mesti dijual atau dibeli. Untungnya, saat melakukan trading investor dapat menggunakan patokan mekanisme perdagangan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) berkenaan ARB dan ARA untuk terhindar dari kesalahan.

Dalam proses BEI disematkan satu proses otomatis yang disebut Jakarta Automated Trading System (JATS). Sistem ini bakal menghitung saham di dalam beberapa klasifikasi tugas juga proses auto rejection. Sistem auto rejection ini bakal menghentikan transaksi jual beli saham saat harga saham melewati batas ketetapan yang ditetapkan BEI tadi.

ARB merupakan singkatan dari auto rejection bawah, di mana saham tidak dapat diperjualbelikan terhadap saat harga jatuh sejumlah kadar khusus dari harga pembukaan. Saat ini ARB yang berlaku di BEI adalah 7% dari pada mulanya 10%.

Dengan menggunakan ini investor dapat menghambat kerugian yang lebih besar saat melakukan trading. Sedangkan ARA adalah auto rejection atas yang diberlakukan saat harga saham melonjak melebihi sekian % bergantung dari harga acuannya.

Adanya ARA ini dapat menolong menghambat investor pemula untuk menjual sangat cepat sehingga keuntungan dari saham dapat dicapai lebih maksimal. Perhatikan tabel di bawah ini untuk mengerti berapa % patokan yang ditetapkan BEI di dalam menerapkan keputusan auto rejection.

Profit taking

Apabila investor pemula tidak mengerti nilai saham yang sewajarnya, dapat dipastikan investor ini juga tidak mengerti bahwa harga saham selanjutnya bisa saja sudah ketinggian.

Resikonya adalah investor bakal ketinggalan saat yang pas untuk menjual saham yang dimilikinya dikarenakan kesempatan untuk profit taking sudah terlewatkan. Yang lebih bahaya lagi adalah saat investor jadi membeli saham saat harga saham sedang tinggi-tingginya sehingga investor justru meraih saham miliki nilai minus di dalam portofolio mereka.

 

Rasio price to earnings (PER)

Jangan sangat bergantung kepada rasio Price to Earnings (PER). Dengan cuma mengandalkan rasio PER perusahaan di dalam analisa fundamental saham maka seorang investor pemula seringkali melakukan kesalahan di dalam menilai harga wajar saham dan berinvestasi terhadap saham yang salah.

Rasio PER sebenarnya berfungsi untuk memperbandingkan harga saham di https://carabelisaham.id/ perusahaan di dalam satu sektor industri. Namun itu tidak serta merta menjadi salah satu rasio yang digunakan di dalam menilai harga saham.

Ada banyak rasio di dalam analisa fundamental saham untuk menghitung sehat tidaknya keuangan perusahaan dan potensi kenaikan harga sahamnya. Rasio PER cuma menghitung tingkat pencapaian laba bersih tahun lantas kecuali dibandingkan dengan harga saham saat ini.

By toha