Bulan Mei lalu merupakan bulan yang membanggakan bagi Prof. dr. Ova Emilia karena beliau diangkat sebagai rektor Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya beliau terpilih menjadi kandidat bersama dengan pesaingnya yaitu Deendarlianto dan Bambang Agus Kironoto. Dengan terpilihnya guru besar ini, Beliau menjadi rektor UGM wanita kedua setelah sebelumnya pada tahun 2014 – 2017 UGM juga telah memiliki rektor wanita bernama Dwikorita Karnawati. Sebelum menjabat menjadi rektor, Beliau telah menjabat sebagai Dekan FKKMK UGM tahun bakti 2016 hingga 2022.

Prof. dr. Ova merupakan putri dari Prof. Zaini Dahlan yang juga merupakan pendidik dan pernah menjadi rektor UII dan UIN Sunan Kalijaga. Terlahir dari keluarga pendidik, membuat Prof. Ova juga berkecimpung di dunia pendidikan hingga akhirnya terpilih menjadi rektor UGM tahun ini. Dalam kehidupan pribadi, Prof. Ova sudah menikah dengan pria asal Korea Selatan yang sudah menjadi muslim dan memiliki dua orang putri dan dua orang putra. 

Berikut adalah profil singkat dari Prof. dr. Ova selaku rektor baru Universitas Gadjah Mada:

Lahir 19 – februari – 1964 di Jogjakarta.

Nama ayah Zaini Dahlan.

Almamater dari Universitas Gadjah Mada (1987), University of Dundee Skotlandia (1990) dan University of New South Wales (2009)

Memiliki gelar dokter spesialis Kandungan dan Kebidanan dan mengambil subspesialis di bidang Kandungan dan Kebidanan Sosial.

Memiliki kekayaan tercatat per Agustus 2022 sebanyak 29.2 milyar.

 

Dalam menjadi rektor UGM, Beliau memiliki program kerja antara lain:

Tidak adanya kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus UGM.

Tidak ada mahasiswa yang harus putus kuliah karena uang kuliah tunggal yang tinggi.

Memperdalam jati diri UGM sebagai Universitas Pancasila, Universitas Kerakyatan, Universitas Perjuangan dan Universitas Pusat Kebudayaan.

Dalam dunia pendidikan, Beliau juga memiliki pandangannya sendiri termasuk ketidaksetujuannya akan rencana dihapuskannya jalur mandiri untuk masuk ke universitas akibat besarnya peluang KKN dari pihak kampus. Selain itu Beliau juga berpendapat bahwa peran orang tua dan gadget di era modern perlu mendapat perhatian lebih dari tenaga pendidik.